Jadi Kota Ternyaman di RI, Yogya Kalahkan Jakarta

Jadi Kota Ternyaman di RI, Yogya Kalahkan Jakarta Jakarta - Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia melakukan survei terhadap 1000 penduduk di 15 kota besar di Indonesia dari bulan Oktober 2010-Maret 2011 untuk menanyakan tingkat kenyamanan tinggal di sebuah kota. Hasilnya Yogyakarta yang menjadi kota ternyaman dengan Most Liveable City Index (MLCI) 2011 sebesar 66,52%. Angka ini mengalahkan Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia. Jakarta hanya menempati urutan 13 dari 15 kota yang disurvei oleh IAP dengan MLCI hanya sebesar 50,71%. Menurut Sekertaris Jenderal (IAP) Bernardus Djonoputro, Penelitian ini hanya mengambil pandangan masyarakat yang tinggal di 15 kota tersebut dan mengambil sampel responen secara acak. Dalam survei itu, pertanyaan yang diajukan tidak membandingkan antara kota satu dengan kota lainnya...
Jakarta - Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia melakukan survei terhadap 1000 penduduk di 15 kota besar di Indonesia dari bulan Oktober 2010-Maret 2011 untuk menanyakan tingkat kenyamanan tinggal di sebuah kota. Hasilnya Yogyakarta yang menjadi kota ternyaman dengan Most Liveable City Index (MLCI) 2011 sebesar 66,52%. Angka ini mengalahkan Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia. Jakarta hanya menempati urutan 13 dari 15 kota yang disurvei oleh IAP dengan MLCI hanya sebesar 50,71%. Menurut Sekertaris Jenderal (IAP) Bernardus Djonoputro, Penelitian ini hanya mengambil pandangan masyarakat yang tinggal di 15 kota tersebut dan mengambil sampel responen secara acak. Dalam survei itu, pertanyaan yang diajukan tidak membandingkan antara kota satu dengan kota lainnya. "survei ini dilakukan dengan sederhana ini dengan snapshot. Tidak ada pertanyaan membandingkan, hanya menanyakan apakah kota Anda nyaman, lingkungannya gimana, transportasinya, kesehatan, dan lain-lain," jelasnya. Dari survei ini pula, ditemukan terdapat 9 dari 15 kota yang indeks kenyamanannya di bawah rata-rata yang ditetapkan yaitu 54,26%. Hasilnya kota Medan adalah kota yang dianggap paling tidak nyaman hanya sebesar 46,67%. "Persepsi penduduk kota Medan menyatakan bahwa kotanya berada dalam kondisi yang tidak nyaman dan jauh berada di bawah angka rata-rata indeks kota di Indonesia," ungkapnya. Bernardus juga menyatakan, survei ini bukanlah ajang sebuah kota untuk bersaing untuk merebut penghargaan. Survei ini hanya untuk cerminan dan bahan referensi untuk membagun kotanya. "Ini bukan award, seharusnya juga tidak perlu ada award. Ini kan jurinya masyarakat, masyrakat yang menilai. Juga untuk cerminan pemerintah daerahnya," imbuhnya. ( ade/hen)
loading gif

Jadi Kota Ternyaman di RI, Yogya Kalahkan Jakarta

Jakarta – Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia melakukan survei terhadap 1000 penduduk di 15 kota besar di Indonesia dari bulan Oktober 2010-Maret 2011 untuk menanyakan tingkat kenyamanan tinggal di sebuah kota. Hasilnya Yogyakarta yang menjadi kota ternyaman dengan Most Liveable City Index (MLCI) 2011 sebesar 66,52%.

Angka ini mengalahkan Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia. Jakarta hanya menempati urutan 13 dari 15 kota yang disurvei oleh IAP dengan MLCI hanya sebesar 50,71%.

Menurut Sekertaris Jenderal (IAP) Bernardus Djonoputro, Penelitian ini hanya mengambil pandangan masyarakat yang tinggal di 15 kota tersebut dan mengambil sampel responen secara acak. Dalam survei itu, pertanyaan yang diajukan tidak membandingkan antara kota satu dengan kota lainnya.

“survei ini dilakukan dengan sederhana ini dengan snapshot. Tidak ada pertanyaan membandingkan, hanya menanyakan apakah kota Anda nyaman, lingkungannya gimana, transportasinya, kesehatan, dan lain-lain,” jelasnya.

Dari survei ini pula, ditemukan terdapat 9 dari 15 kota yang indeks kenyamanannya di bawah rata-rata yang ditetapkan yaitu 54,26%. Hasilnya kota Medan adalah kota yang dianggap paling tidak nyaman hanya sebesar 46,67%.

“Persepsi penduduk kota Medan menyatakan bahwa kotanya berada dalam kondisi yang tidak nyaman dan jauh berada di bawah angka rata-rata indeks kota di Indonesia,” ungkapnya.

Bernardus juga menyatakan, survei ini bukanlah ajang sebuah kota untuk bersaing untuk merebut penghargaan. Survei ini hanya untuk cerminan dan bahan referensi untuk membagun kotanya.

“Ini bukan award, seharusnya juga tidak perlu ada award. Ini kan jurinya masyarakat, masyrakat yang menilai. Juga untuk cerminan pemerintah daerahnya,” imbuhnya.

(ade/hen)