Perumahan Murah: Manusiawikah?

Perumahan Murah: Manusiawikah? Pernahkah Anda jalan-jalan di area pembuatan perumahan mewah dan di daerah khusus pembuatan perumahan murah? Coba perhatikan bahan-bahan yang dipakai oleh dua pengembang yang berbeda tersebut? Coba juga perhatikan desain dan bentuk rumahnya. Tela’ah juga lama pembuatan, cara tukang dan kontraktor bangunan memperlakukan bahan-bahan bangunannya. Semuanya pasti berbeda. Perumahan murah akan mempunyai bentuk yang sama dengan masa pembuatan yang cukup kilat. Sedangkan perumahan mewah, selain bahannya dibuat bagus, desain dan warnanya pun dibuat semenarik mungkin. Kurang Manusiawi
Pernahkah Anda jalan-jalan di area pembuatan perumahan mewah dan di daerah khusus pembuatan perumahan murah? Coba perhatikan bahan-bahan yang dipakai oleh dua pengembang yang berbeda tersebut? Coba juga perhatikan desain dan bentuk rumahnya. Tela’ah juga lama pembuatan, cara tukang dan kontraktor bangunan memperlakukan bahan-bahan bangunannya. Semuanya pasti berbeda. Perumahan murah akan mempunyai bentuk yang sama dengan masa pembuatan yang cukup kilat. Sedangkan perumahan mewah, selain bahannya dibuat bagus, desain dan warnanya pun dibuat semenarik mungkin. Kurang Manusiawi Melihat bahan yang digunakan sangat berbeda, maka bukannya tak percaya dengan para pengembang, tapi rumah-rumah di perumahan murah mempunyai ketahanan yang tidak terlalu baik. Hanya dalam waktu 5 tahun, bila rumah tidak direnovasi, maka pintu dan jendela yang susah ditutup karena pemuaian yang terjadi, dinding dan reng plafon yang retak, merupakan hal-hal kecil yang sering terjadi. Di samping itu, drainase yang dibuat asal-asalan dengan pembuangan limbah yang tak jelas membuat perumahan murah terlihat kumuh dan banyak nyamuk. Lebih-lebih dengan tanah yang sempit dan rumah yang kecil serta sarana fasilitas umum yang sangat terbatas atau malahan tidak ada sama sekali semakin membuat perumahan murah seperti tempat pengelompokan orang-orang dengan penghasilan rendah. Perumahan murah yang mempunyai tipe-tipe mulai dari 16, 21, 27, 36, dan 45, tersebut kadang tidak manusiawi. Tapi, apa yang bisa diperbuat oleh orang-orang tak mampu. Hanya kepasrahan dan kerelaan hidup berhimpitan di antara dinding-dinding nan sempit. Kadang untuk mensiasati kesumpekan yang terjadi di dalam rumah, ruang tamu dibuat di luar rumah alias di teras dengan hanya membentangkan tikar. Kadang pengembang perumahan murah tak menyediakan kelebihan tanah sama sekali. Yang ada hanyalah sisa seluas 2x4 m2 atau 2x5 m2 atau bahkan 1x4 m2 yang ada di depan rumah. Minimal Tipe 36 Tidaklah salah bila pemerintah akan mengeluarkan peraturan baru menyangkut perumahan murah ini. Minimal satu rumah mempunyai luas 36 meter persegi. Dengan rumah seluas itu, bila mempunyai anak 3, maka rumah akan terasa sempit. Sebenarnya rumah tipe 36 itu hanya cukup didiami oleh satu orang atau sepasang suami istri dengan anak tunggal. Tapi, apa boleh buat dana tak mencukupi untuk membuat rumah yang lebih besar. Bagi pengembang sendiri, sangat sulit mendapatkan margin keuntungan yang memadai ketika semua bahan bangunan naik. Rasanya tak mungkin menjual satu buah rumah tipe 36 dengan harga Rp25 juta. Kecuali bila harga tanah dan bahan bangunan sangat murah dan mendapatkan subsidi dari pemerintah. Peranan Swasta Demi memenuhi kebutuhan perumahan untuk para karyawannya, sudah banyak perusahaan yang menyediakan pinjaman lunak kepada karyawannya yang sudah bekerja untuk kurun waktu tertentu. Hal ini cukup membantu karena biasanya bunga yang diterapkan oleh perusahaan tak sebesar yang diterapkan oleh bank pada umumnya. Bank Syariah Yang menarik adalah, menghubungi bank syariah untuk mendapatkan rumah yang diincar. Bank syariah akan memberikan bagi hasil yang manusiawi selain angsuran yang sama sepanjang tahunnya. Konsep ini memang merupakan konsep Islami yang harus diikuti oleh bank yang menerapkan sistem syariah. Selain rasa nyaman, aman, juga negosiasi berjalan santai dan tak terlalu memberatkan. Bila kredibilitas calon penerima pinjaman bisa dipercaya, dana yang diinginkan akan cair dengan cepat.
loading gif

Perumahan Murah: Manusiawikah?

HOME
Pernahkah Anda jalan-jalan di area pembuatan perumahan mewah dan di daerah khusus pembuatan perumahan murah? Coba perhatikan bahan-bahan yang dipakai oleh dua pengembang yang berbeda tersebut? Coba juga perhatikan desain dan bentuk rumahnya.

Tela’ah juga lama pembuatan, cara tukang dan kontraktor bangunan memperlakukan bahan-bahan bangunannya. Semuanya pasti berbeda. Perumahan murah akan mempunyai bentuk yang sama dengan masa pembuatan yang cukup kilat. Sedangkan perumahan mewah, selain bahannya dibuat bagus, desain dan warnanya pun dibuat semenarik mungkin.

Kurang Manusiawi

Melihat bahan yang digunakan sangat berbeda, maka bukannya tak percaya dengan para pengembang, tapi rumah-rumah di perumahan murah mempunyai ketahanan yang tidak terlalu baik. Hanya dalam waktu 5 tahun, bila rumah tidak direnovasi, maka pintu dan jendela yang susah ditutup karena pemuaian yang terjadi, dinding dan reng plafon yang retak, merupakan hal-hal kecil yang sering terjadi.

Di samping itu, drainase yang dibuat asal-asalan dengan pembuangan limbah yang tak jelas membuat perumahan murah terlihat kumuh dan banyak nyamuk. Lebih-lebih dengan tanah yang sempit dan rumah yang kecil serta sarana fasilitas umum yang sangat terbatas atau malahan tidak ada sama sekali semakin membuat perumahan murah seperti tempat pengelompokan orang-orang dengan penghasilan rendah.

Perumahan murah yang mempunyai tipe-tipe mulai dari 16, 21, 27, 36, dan 45, tersebut kadang tidak manusiawi. Tapi, apa yang bisa diperbuat oleh orang-orang tak mampu. Hanya kepasrahan dan kerelaan hidup berhimpitan di antara dinding-dinding nan sempit.

Kadang untuk mensiasati kesumpekan yang terjadi di dalam rumah, ruang tamu dibuat di luar rumah alias di teras dengan hanya membentangkan tikar. Kadang pengembang perumahan murah tak menyediakan kelebihan tanah sama sekali. Yang ada hanyalah sisa seluas 2×4 m2 atau 2×5 m2 atau bahkan 1×4 m2 yang ada di depan rumah.

Minimal Tipe 36

Tidaklah salah bila pemerintah akan mengeluarkan peraturan baru menyangkut perumahan murah ini. Minimal satu rumah mempunyai luas 36 meter persegi. Dengan rumah seluas itu, bila mempunyai anak 3, maka rumah akan terasa sempit. Sebenarnya rumah tipe 36 itu hanya cukup didiami oleh satu orang atau sepasang suami istri dengan anak tunggal. Tapi, apa boleh buat dana tak mencukupi untuk membuat rumah yang lebih besar.

Bagi pengembang sendiri, sangat sulit mendapatkan margin keuntungan yang memadai ketika semua bahan bangunan naik. Rasanya tak mungkin menjual satu buah rumah tipe 36 dengan harga Rp25 juta. Kecuali bila harga tanah dan bahan bangunan sangat murah dan mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Peranan Swasta

Demi memenuhi kebutuhan perumahan untuk para karyawannya, sudah banyak perusahaan yang menyediakan pinjaman lunak kepada karyawannya yang sudah bekerja untuk kurun waktu tertentu. Hal ini cukup membantu karena biasanya bunga yang diterapkan oleh perusahaan tak sebesar yang diterapkan oleh bank pada umumnya.

Bank Syariah

Yang menarik adalah, menghubungi bank syariah untuk mendapatkan rumah yang diincar. Bank syariah akan memberikan bagi hasil yang manusiawi selain angsuran yang sama sepanjang tahunnya. Konsep ini memang merupakan konsep Islami yang harus diikuti oleh bank yang menerapkan sistem syariah.

Selain rasa nyaman, aman, juga negosiasi berjalan santai dan tak terlalu memberatkan. Bila kredibilitas calon penerima pinjaman bisa dipercaya, dana yang diinginkan akan cair dengan cepat.

FASILITAS

UNIT CLUSTER

MASTER PLAN

LOKASI

HUBUNGI KAMI