Sektor Properti Masih Terhambat Suku Bunga dan Infrastruktur

Sektor Properti Masih Terhambat Suku Bunga dan Infrastruktur Jakarta - Perkembangan industri properti di Indonesia berjalan cukup lambat. Pasalnya industri properti di Indonesia masih terkendala oleh beberapa hal antara lain suku bunga yang tinggi dan infrastruktur berupa jalan dimana penyakit 'kemacetan' masih melekat. Konsultan Properti Cushman & Wakefield mengungkapkan investor dan perusahaan asal luar negeri enggan membangun perkantoran ataupun berkantor di Indonesia khususnya di Jakarta karena kemacetan di Jakarta. Properti tidak berkembang pesat, memang dikarenakan satu hal yakni infrastruktur yang kurang. Sehingga banyak pembangunan sektor properti oleh asing terutama atau investor asing yang enggan mengembangkan di Indonesia karena macet, kata Executive Director Cushman & Wakefield Indonesia Handa Sulaiman dalam konferensi pers di Kantornya, Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Jumat (10/6/2011).
Jakarta - Perkembangan industri properti di Indonesia berjalan cukup lambat. Pasalnya industri properti di Indonesia masih terkendala oleh beberapa hal antara lain suku bunga yang tinggi dan infrastruktur berupa jalan dimana penyakit 'kemacetan' masih melekat. Konsultan Properti Cushman & Wakefield mengungkapkan investor dan perusahaan asal luar negeri enggan membangun perkantoran ataupun berkantor di Indonesia khususnya di Jakarta karena kemacetan di Jakarta. "Properti tidak berkembang pesat, memang dikarenakan satu hal yakni infrastruktur yang kurang. Sehingga banyak pembangunan sektor properti oleh asing terutama atau investor asing yang enggan mengembangkan di Indonesia karena macet," kata Executive Director Cushman & Wakefield Indonesia Handa Sulaiman dalam konferensi pers di Kantornya, Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Jumat (10/6/2011). Dijelaskan Handa, sebenarnya jika dibandingkan dengan Singapura, Hongkong atau negara maju lainnya Indonesia ini masih cukup menarik. Dari sisi harga jual tanahnya dan dari sisi land marking cukup bisa membuat industri properti seperti perkantoran, mal dan hunian lebih pesat lagi. "Namun infrastruktur memang masalah klasik yang menghambat. Para investor akhirnya mengembangkan di negara lain yang infrastrukturnya lebih memadai ketimbang Indonesia," tuturnya. Selain kemacetan, Handa mengatakan suku bunga bank yang masih dibilang tinggi sebenarnya juga menyebabkan properti sedikit terhambat. Menurutnya, jika dibandingkan dengan negara lain suku bunga Indonesia masih dibilang cukup tinggi. "Jika inflasi tinggi kan interest rate tinggi makanya sulit untuk pinjam uang bank jika suku bunga tinggi. Walaupun jika dibandingkan beberapa tahun lalu dimana suku bunga khusus properti di 24% dan sekarang sudah 11-12% tetapi demand akan pinjaman kredit bank masih sedikit," papar Handa. Lebih jauh Ia mengatakan, industri properti membutuhkan bunga yang rendah. Dahulu, lanjutnya, ketika mata uang USD bisa dipergunakan oleh investor asing di Indonesia maka mereka cenderung meminjam menggunakan USD karena bunga lebih murah. "Sekarang hanya rupiah yang diwajibkan, dan suku bunga untuk rupiah kan cukup tinggi," kata Dia. Cushman & Wakefield juga memaparkan mengenai penjualan invstasi properti di Asia Pasifik. President & CEO Cushman Wakefield Glenn J Rufrano mengatakan tahun 2010 menandai dimulainya perubahan haluan alias titik balik kesuksesan investasi di Asia Pasifik. "Iklim investasi properti Asia Pasifik yang meningkat ini didukung oleh pemulihan ekonomi solid, akses kredit yang mudah bagi para investor, dan banyaknya aset properti yang mempunyai prospek yang baik," ungkapnya. Cushman & Wakefield mencatat total volume penjualan investasi di kuartal I-2011 naik 14% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu di Asia Pasifik. Minat investor di gedung perkantoran utama (primer) terkonsentrasi di Singapura, Hongkong, Shanghai dan Beijing, dimana harga sewa ruang kantor (dalam US$) ditahun 2010 mengalami perbaikan hingga 78%, sementara di Beijing meningkat sebesar 70%, di Shanghai sebesar 78% dan sebesar 42% di Singapura. (dru/hen) Infrastruktur, Properti, Suku Bung, perumahan dijual, rumah dijual, tanah dijual, ruko dijual, apartement dijual, rukan dijual, real estate, house loan, kpr, kredit, bank, apartemen, apartment, cluster
loading gif

Sektor Properti Masih Terhambat Suku Bunga dan Infrastruktur

Jakarta – Perkembangan industri properti di Indonesia berjalan cukup lambat. Pasalnya industri properti di Indonesia masih terkendala oleh beberapa hal antara lain suku bunga yang tinggi dan infrastruktur berupa jalan dimana penyakit ‘kemacetan’ masih melekat.

Konsultan Properti Cushman & Wakefield mengungkapkan investor dan perusahaan asal luar negeri enggan membangun perkantoran ataupun berkantor di Indonesia khususnya di Jakarta karena kemacetan di Jakarta.

“Properti tidak berkembang pesat, memang dikarenakan satu hal yakni infrastruktur yang kurang. Sehingga banyak pembangunan sektor properti oleh asing terutama atau investor asing yang enggan mengembangkan di Indonesia karena macet,” kata Executive Director Cushman & Wakefield Indonesia Handa Sulaiman dalam konferensi pers di Kantornya, Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Jumat (10/6/2011).

Dijelaskan Handa, sebenarnya jika dibandingkan dengan Singapura, Hongkong atau negara maju lainnya Indonesia ini masih cukup menarik. Dari sisi harga jual tanahnya dan dari sisi land marking cukup bisa membuat industri properti seperti perkantoran, mal dan hunian lebih pesat lagi.

“Namun infrastruktur memang masalah klasik yang menghambat. Para investor akhirnya mengembangkan di negara lain yang infrastrukturnya lebih memadai ketimbang Indonesia,” tuturnya.

Selain kemacetan, Handa mengatakan suku bunga bank yang masih dibilang tinggi sebenarnya juga menyebabkan properti sedikit terhambat. Menurutnya, jika dibandingkan dengan negara lain suku bunga Indonesia masih dibilang cukup tinggi.

“Jika inflasi tinggi kan interest rate tinggi makanya sulit untuk pinjam uang bank jika suku bunga tinggi. Walaupun jika dibandingkan beberapa tahun lalu dimana suku bunga khusus properti di 24% dan sekarang sudah 11-12% tetapi demand akan pinjaman kredit bank masih sedikit,” papar Handa.

Lebih jauh Ia mengatakan, industri properti membutuhkan bunga yang rendah. Dahulu, lanjutnya, ketika mata uang USD bisa dipergunakan oleh investor asing di Indonesia maka mereka cenderung meminjam menggunakan USD karena bunga lebih murah. “Sekarang hanya rupiah yang diwajibkan, dan suku bunga untuk rupiah kan cukup tinggi,” kata Dia.

Cushman & Wakefield juga memaparkan mengenai penjualan invstasi properti di Asia Pasifik. President & CEO Cushman Wakefield Glenn J Rufrano mengatakan tahun 2010 menandai dimulainya perubahan haluan alias titik balik kesuksesan investasi di Asia Pasifik.

“Iklim investasi properti Asia Pasifik yang meningkat ini didukung oleh pemulihan ekonomi solid, akses kredit yang mudah bagi para investor, dan banyaknya aset properti yang mempunyai prospek yang baik,” ungkapnya.

Cushman & Wakefield mencatat total volume penjualan investasi di kuartal I-2011 naik 14% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu di Asia Pasifik.

Minat investor di gedung perkantoran utama (primer) terkonsentrasi di Singapura, Hongkong, Shanghai dan Beijing, dimana harga sewa ruang kantor (dalam US$) ditahun 2010 mengalami perbaikan hingga 78%, sementara di Beijing meningkat sebesar 70%, di Shanghai sebesar 78% dan sebesar 42% di Singapura.

(dru/hen)