Transaksi Penjualan Properti Melesat di Mei 2011

Transaksi Penjualan Properti Melesat di Mei 2011 Jakarta - Rel Estate Indonesia (REI) mencatat transaksi penjualan properti yang cukup tajam pada bulai Mei 2011. Penjualan properti pada bulan lalu mengalahkan penjualan bulan April bahkan tertinggi selama 2011 ini. Ketua Umum REI Setyo Maharso mengatakan kenaikan penjualan properti bulan Mei menunjukan geliat ekonomi Indonesia kian membaik. Bahkan ia memperkirakan tingginya harga komoditi perkebunan yang terus merayap naik seperti cengkeh, karet menyumbang peningkatan daya beli masyarakat. Di bulan Mei penjualan memang tinggi, banyak pembelian karena ekonomi sedang bagus, daya beli ada, kata Setyo kepada detikFinance, Rabu (1/6/2011) Setyo menambahkan penjualan properti di bulan Mei juga ditopang oleh adanya penundaan penjualan properti di dua bulan pertama 2011 karena kisruh...
Jakarta - Rel Estate Indonesia (REI) mencatat transaksi penjualan properti yang cukup tajam pada bulai Mei 2011. Penjualan properti pada bulan lalu mengalahkan penjualan bulan April bahkan tertinggi selama 2011 ini. Ketua Umum REI Setyo Maharso mengatakan kenaikan penjualan properti bulan Mei menunjukan geliat ekonomi Indonesia kian membaik. Bahkan ia memperkirakan tingginya harga komoditi perkebunan yang terus merayap naik seperti cengkeh, karet menyumbang peningkatan daya beli masyarakat. "Di bulan Mei penjualan memang tinggi, banyak pembelian karena ekonomi sedang bagus, daya beli ada," kata Setyo kepada detikFinance, Rabu (1/6/2011) Setyo menambahkan penjualan properti di bulan Mei juga ditopang oleh adanya penundaan penjualan properti di dua bulan pertama 2011 karena kisruh penarikan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). "Soal berapa angkanya belum kita hitung, tapi secara keseluruhan (2011) kita prediksi naiknya 15%. Yang jelas Mei lebih tinggi dari April dan tertinggi dari bulan-bulan lainnya," katanya. Ia juga menambahkan berdasarkan laporan dari angota REI di daerah, transaksi riil banyak berasal dari pameran-pameran selama Mei 2011. Setidaknya selama Mei ada 5 pameran properti hunian skala besar di luar Jakarta seperti Batam, Lampung, Makassar, Manado dan Kendari. Bahkan tarcatat transaksi paling tinggi di Manado Rp 250 miliar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 0,12% di Mei 2011. Makanan jadi, minuman, dan rokok menyumbang inflasi 0,04%, perumahan, air, listrik, gas menyumbang inflasi 0,06, kemudian sandang termasuk emas menyumbang inflasi 0,05%. Sementara harga makanan masih menurun dan menyumbang deflasi sebesar 0,07%. ( hen/dnl)
loading gif

Transaksi Penjualan Properti Melesat di Mei 2011

Jakarta – Rel Estate Indonesia (REI) mencatat transaksi penjualan properti yang cukup tajam pada bulai Mei 2011. Penjualan properti pada bulan lalu mengalahkan penjualan bulan April bahkan tertinggi selama 2011 ini.

Ketua Umum REI Setyo Maharso mengatakan kenaikan penjualan properti bulan Mei menunjukan geliat ekonomi Indonesia kian membaik. Bahkan ia memperkirakan tingginya harga komoditi perkebunan yang terus merayap naik seperti cengkeh, karet menyumbang peningkatan daya beli masyarakat.

“Di bulan Mei penjualan memang tinggi, banyak pembelian karena ekonomi sedang bagus, daya beli ada,” kata Setyo kepada detikFinance, Rabu (1/6/2011)

Setyo menambahkan penjualan properti di bulan Mei juga ditopang oleh adanya penundaan penjualan properti di dua bulan pertama 2011 karena kisruh penarikan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

“Soal berapa angkanya belum kita hitung, tapi secara keseluruhan (2011) kita prediksi naiknya 15%. Yang jelas Mei lebih tinggi dari April dan tertinggi dari bulan-bulan lainnya,” katanya.

Ia juga menambahkan berdasarkan laporan dari angota REI di daerah, transaksi riil banyak berasal dari pameran-pameran selama Mei 2011. Setidaknya selama Mei ada 5 pameran properti hunian skala besar di luar Jakarta seperti Batam, Lampung, Makassar, Manado dan Kendari. Bahkan tarcatat transaksi paling tinggi di Manado Rp 250 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 0,12% di Mei 2011. Makanan jadi, minuman, dan rokok menyumbang inflasi 0,04%, perumahan, air, listrik, gas menyumbang inflasi 0,06, kemudian sandang termasuk emas menyumbang inflasi 0,05%. Sementara harga makanan masih menurun dan menyumbang deflasi sebesar 0,07%.

(hen/dnl)